Saya tidak ingat persis kapan terakhir kali membuka dashboard blog ini dengan niat sungguh-sungguh—bukan sekadar login untuk mengecek apakah masih hidup, lalu logout setelah memastikan server belum kedaluwarsa.
Tapi saya ingat perasaannya. Semacam melihat tanaman pot yang hampir mati tapi belum benar-benar mati—masih ada satu daun hijau di antara yang cokelat kering. Masih ada. Masih bisa diselamatkan. Tinggal mau atau tidak.
Ternyata mau.
Saya ngeblog sejak 2006. Dua ribu enam. Waktu itu Blackberry masih keren, MySpace belum almarhum, dan orang masih debat serius soal apakah Multiply lebih baik dari Friendster. Platform blog paling bergengsi kala itu bukan tempat jualan kursus atau affiliate link—melainkan tempat orang benar-benar menulis. Tidak ada yang tanya engagement rate-nya berapa. Tidak ada yang khawatir soal bounce rate. Nulis ya nulis. Kalau ada yang baca, syukur. Kalau tidak ada pun, ya sudah—tulisan tetap ada.
Dua puluh tahun kemudian, saya masih di sini. Atau lebih tepatnya: kembali ke sini.
Soal membaca—ini yang jadi akar semuanya.
Saya tipe orang yang tidak bisa berhenti membaca. Bukan karena disiplin, bukan karena resolusi tahunan yang ditempel di cermin. Lebih karena semacam gatal yang tidak bisa reda kecuali dengan membuka buku, artikel, atau tulisan panjang seseorang di pojok internet yang tidak terkenal tapi pemikirannya mengejutkan.
Masalahnya, orang yang banyak membaca akan cepat penuh di dalam kepala. Dan kepala yang penuh tapi tidak punya saluran keluar itu tidak nyaman—seperti harddisk yang sudah 98% kapasitasnya, mulai lemot, mulai error di tempat-tempat yang tidak terduga.
Menulis adalah cara saya mengosongkan sebagian ruang itu. Bukan membuangnya—tapi memindahkannya ke tempat yang lebih tahan lama dari sekadar memori.
you are what you read
you are also what you write. Karena tulisan memaksa pikiran untuk berurutan. Untuk jujur. Untuk bisa dipertanggungjawabkan—setidaknya kepada diri sendiri.
Soal ingatan—ini yang lebih personal.
Ada kepingan-kepingan kecil yang saya tidak mau hilang begitu saja.
Bukan peristiwa besar. Bukan momen dramatis yang layak masuk buku memoar. Cuma hal-hal kecil yang kalau tidak dicatat, akan menguap—perlahan, tanpa suara, tanpa permisi. Cara otak manusia bekerja itu kejam dalam satu hal: ia menyimpan emosi lebih baik dari fakta, dan fakta paling sering yang pertama pergi.
Saya ingin menyimpan keduanya. Fakta dan rasa.
Blog bagi saya bukan personal branding. Bukan content strategy. Ini lebih mendekati semacam kotak arsip milik sendiri—yang kebetulan bisa dibaca orang lain kalau mereka mau mampir.
Soal template—ini yang praktis tapi ternyata penting.
Jujur saja: saya tipe orang yang tidak bisa nyaman menulis kalau tampilannya berantakan. Ini bukan alasan, ini kondisi. Otak yang terbiasa berpikir visual akan sulit fokus pada isi kalau wadahnya terasa salah—font yang kurang pas, jarak baris yang terlalu rapat, warna yang tidak sinkron.
Dulu, mau modifikasi template sedikit saja butuh waktu lama. Harus rela trial-error, buka dokumentasi, setengah paham, hasilnya hampir bagus tapi tidak benar-benar pas—dan itu cukup menyebalkan untuk dijadikan alasan menunda.
Sekarang? AI mengubah ini secara signifikan. Prosesnya jadi percakapan—saya jelaskan apa yang saya mau, hasilnya bisa dilihat cepat, direvisi, diiterasi. Tidak ajaib, tidak instan, tapi jauh lebih responsif dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, urusan teknis tidak lagi terasa seperti hambatan yang lebih besar dari ide tulisannya sendiri.
Jadi itulah kenapa 2026 terasa berbeda.
Bukan karena ada resolusi baru yang ditempel di kalender. Bukan karena tiba-tiba punya banyak waktu luang—nyatanya tidak. Tapi karena beberapa hal yang selama ini jadi alasan menunda, satu per satu, sudah tidak relevan lagi sebagai alasan.
Masih hobi membaca? Iya. Masih ada hal yang ingin disimpan dalam bentuk tulisan? Banyak. Templatenya sudah bisa diotak-atik tanpa frustrasi berlebihan? Sudah.
Kalau tiga dari empat hambatan sudah hilang, hambatan keempat—kemalasan murni—pun jadi susah dipertahankan sebagai argumen.
Saya tidak berjanji posting setiap hari. Tidak juga setiap minggu, kalau mau jujur.
Yang saya tahu: hari ini saya menulis. Dan tulisan ini ada.
Untuk sementara, itu sudah cukup. Oh iya, foto caption diatas adalah rumah kontrakan pertama setelah lulus kuliah dan menikah,tahun 2006.
Sampai posting berikutnya—yang semoga tidak butuh waktu dua tahun untuk datang....