"dua hari berturut-turut listrik di rumah mati, satu kampung semua listriknya padam dan tiba-tiba saya ingat banyak hal..."
---
Sudah dua hari ini di rumah saya gelap.
Bukan gelap karena tidak bayar tagihan—sebelum ada yang tanya. Tapi gelap karena PLN sedang punya urusan sendiri yang saya tidak tahu persis apa, dan seperti biasa, warga hanya bisa menerima situasi sambil sesekali mengecek aplikasi untuk tahu kapan kira-kira hidup normal akan kembali.
Dua hari. Dalam kondisi "lama"—bukan sekadar padam sejam lalu nyala lagi seperti bersin. Ini mati lampu yang serius. Yang membuat lemari es mulai khawatir lalu mencair, yang membuat kipas angin jadi benda pajangan, yang membuat saya baru sadar betapa banyak hal di rumah ini bergantung pada sesuatu yang tidak kasat mata tapi hilangnya terasa di mana-mana.
---
Saya sudah lama tidak mengalami ini.
Maksudnya—lama benar-benar lama. Mati lampu yang pendek dan terburu-buru sudah jadi hal biasa, semacam interupsi kecil dalam rutinitas yang tidak perlu dicatat. Tapi mati lampu yang *tinggal*, yang mengendap, yang membuat malam terasa seperti malam sungguhan—itu sudah lama tidak terjadi.
Dan kemarin malam, saat saya duduk di ruang tengah yang gelap dengan hanya cahaya senter dari smartphone yang menyandar miring di meja, saya menyadari sesuatu:
"Ternyata gelap itu hening."
Bukan hening biasa. Hening yang berbeda teksturnya. Hening yang tidak ada dalam kehidupan sehari-hari ketika listrik hidup—ketika selalu ada suara kulkas berdengung, ada suara televisi tetangga merembes lewat dinding, ada suara router Wi-Fi yang tidak pernah benar-benar senyap.
Semua itu pergi sekarang.
Yang tersisa: hujan. Angin. Dan suara tetangga.
---
Satu kampung gelap.
Ini bagian yang paling asing sekaligus paling menarik. Biasanya malam di sini ada gradasi terang dari berbagai arah—lampu teras sana, lampu ruang tamu sini, cahaya televisi yang bocor dari jendela yang tidak tertutup rapat. Selalu ada sesuatu yang bercahaya di suatu sudut.
Kemarin malam tidak ada.
Ke mana pun mata menoleh, gelap. Rumah seberang gelap. Ujung gang gelap. Jalan kampung yang biasanya minimal ada satu dua orang lewat sambil pegang ponsel—gelap.
Dan anehnya, dari kegelapan itulah suara-suara muncul.
Suara tetangga mengobrol. Terdengar jelas—lebih jelas dari biasanya, karena tidak ada kompetitor suara lain. Saya bisa dengar tawa kecil dari rumah sebelah. Bisa dengar seseorang menceritakan sesuatu dengan semangat, meski tidak jelas apa. Ada suara sendok mengetuk mangkuk—mungkin mereka makan malam dengan penerangan seadanya.
Mendadak terasa seperti kampung yang "ramai" justru karena kondisinya tidak memungkinkan siapapun menyendiri bersama layar masing-masing. Tidak ada yang bisa "scroll". Tidak ada yang bisa maraton serial dracin. Semua orang dipaksa ke mode yang sama: ngobrol, atau diam bersama kegelapan.
---
Soal persiapan-ini yang terlewat.
Tidak ada lilin. Tidak ada lampu darurat yang baterainya terisi penuh. Tidak ada senter konvensional yang layak pakai. Seluruh antisipasi saya terhadap mati lampu rupanya sudah obsolete sejak beberapa tahun terakhir karena mati lampu yang bisa bertahan lama sudah jarang terjadi—dan otak manusia memang cepat sekali berhenti bersiap untuk sesuatu yang tidak pernah datang.
Maka jadilah: senter dari smartphone.
Yang ironis tentu saja adalah bahwa benda yang paling saya andalkan saat listrik mati, adalah benda yang paling cepat mati kalau listrik tidak ada.
Saya cas ponsel dari powerbank. Powerbank saya cas dari... tidak ada. Karena powerbank-nya juga sudah habis.
Akhirnya saya irit betul—menyalakan senter hanya kalau perlu, sisanya membiarkan mata beradaptasi dengan gelap. Dan mata ternyata bisa beradaptasi. Perlahan. Diam-diam. Sampai yang tadinya pekat hitam mulai bisa dibedakan antara bayangan lemari dan bayangan pintu.
Manusia rupanya belum sepenuhnya lupa caranya hidup tanpa listrik. Hanya perlu diingatkan.
---
Dan hujan turun.
Ini yang kemudian membuat segalanya bergeser dari sekadar "situasi tidak nyaman" menjadi sesuatu yang lebih sulit diberi nama.
Hujan di malam tanpa lampu punya kualitas yang berbeda. Suaranya lebih penuh—lebih terdengar dalam detailnya, percikan di genteng yang berbeda iramanya dengan percikan di halaman, suara air yang mengalir di selokan yang mulai penuh. Tidak ada distraksi lain yang cukup keras untuk bersaing.
Dan saya tiba-tiba ingat.
---
Dulu, mati lampu adalah "acara".
Bukan musibah. Bukan gangguan. Tapi semacam jeda yang semua orang di rumah sambut dengan cara yang sudah ada protokolnya tanpa pernah dibicarakan. Ibu mencari lilin. Bapak menyalakan korek. Satu lilin dinyalakan di meja tengah, dan cahayanya yang kuning goyang-goyang itu menerangi semuanya dengan cara yang tidak bisa dilakukan lampu neon—dengan bayangan yang bergerak, dengan suasana yang seketika berubah jadi lebih hangat dari aslinya.
Kami duduk. Tidak ngapa-ngapain yang khusus. Tapi "ada bersama" dengan cara yang berbeda dari biasanya—karena tidak ada televisi yang mengarahkan perhatian ke satu titik, tidak ada yang bisa pergi ke kamar dan menutup pintu untuk menyendiri bersama hiburannya masing-masing.
Gelap menyatukan secara paksa. Dan paksaan itu, ternyata, tidak selalu terasa seperti paksaan.
Kalau hujan turun bersamaan—itu bonus. Itu malam yang terasa seperti memiliki tekstur sendiri. Saya duduk dan mendengar hujan, dan waktu terasa melambat dengan cara yang tidak pernah terjadi di hari-hari biasa yang penuh cahaya dan koneksi internet.
Saya ingat betul perasaan itu. Perasaan bahwa malam ini "berbeda" —bukan lebih baik atau lebih buruk, tapi "berbeda", dan perbedaan itu cukup untuk membuat seorang anak kecil tidak buru-buru ingin tidur.
---
Kemarin malam, di usia yang sudah jauh dari masa itu, saya merasakan sesuatu yang serupa.
Saya duduk di gelap. Hujan turun. Suara tetangga samar-samar dari balik dinding. Senter ponsel saya matikan karena baterai perlu dijaga. Dan saya hanya duduk—sesuatu yang sangat jarang saya lakukan tanpa sesuatu yang dipegang, ditonton, atau didengarkan melalui earphone.
Hanya duduk. Hanya mendengar hujan.
Dan anehnya—tidak terasa membosankan.
---
Listrik belum juga kembali saat tulisan ini selesai saya ketik—dengan kecemasan kecil di pojok kepala soal baterai yang tersisa.
Tapi saya tidak terburu-buru.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang agak lama, saya tidak terburu-buru.
Mungkin itu yang paling mengejutkan dari dua hari ini: bahwa saya perlu satu kampung gelap, satu malam hujan, dan ketiadaan lilin maupun lampu darurat—untuk akhirnya duduk diam dan menyadari betapa berisiknya kehidupan sehari-hari yang saya anggap normal.
Gelap mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan terang.
Bahwa ada hal-hal yang hanya bisa terdengar dalam sunyi.
---
Semoga PLN segera ingat bahwa kami ada di sini.
Tapi kalau belum—malam ini hujannya masih bagus juga...