Tidak Semua Sabun Busanya Banyak. . .


Saung itu bukan tempat makan resmi. Tidak ada nama, tidak ada menu laminated, tidak ada kasir dengan mesin EDC. Hanya sebuah bangunan bambu kecil di tengah kebun milik Keluarga si Teteh — perempuan yang tidak ada yang tahu nama aslinya, dan sepertinya tidak ada yang pernah merasa perlu bertanya — dengan atap sederhana, dan angin yang selalu datang dari arah yang benar.

Jaraknya tidak jauh dari kantor. Lima menit jalan kaki, melewati jalan gang setapak lurus dan hanya belok satu kali, melewati pohon jambu biji yang setiap musimnya selalu ada saja buah jatuh dan tidak dipungut siapa-siapa. Tapi entah kenapa, lima menit itu terasa seperti jarak antara dua dunia. Begitu masuk ke saung, suara notifikasi whatsapp seperti tidak bisa mengikuti. Udara di sana punya tekstur yang berbeda — lebih berat, lebih hijau, lebih manusiawi.

Di kejauhan, kalau angin sedang baik, kadang terdengar suara angin menggoyang daun-daun pohon pisang di kebun. Kadang juga suara adzan dari masjid kampung yang bergema tenang di antara pohon-pohon.

Kami memang sengaja ke sana kalau butuh istirahat yang sungguh-sungguh.

Hari itu kami duduk berempat di atas Saung biasanya. kopi hitam panas sudah datang duluan sebelum makanannya — cara si Teteh menyambut yang sudah seperti kebiasaan tak tertulis. Tidak ada yang minta, selalu ada. Di luar, daun-daun di kebun pisang bergerak pelan ditiup angin lembah. Suara motor dari jalan raya terdengar jauh, seperti bukan urusan siapa-siapa di sini.

Egi mengaduk kopinya pelan, menatap gelasnya seperti sedang membaca sesuatu.

"Eh, urang mau cerita heula," katanya. "Kalian pernah denger quotes yang bunyinya sok wise tapi ternyata nggak ada artinya sama sekali?"

Nurul langsung menoleh. "Tiap Senin pagi di grup WhatsApp keluarga."

Semua ketawa. Tapi Egi menggeleng.

"Lain eta. Serius ieu mah. Ini pengalaman urang sendiri. Di tempat kerja lama."

Dion meletakkan sendoknya. Willy berhenti mengunyah. Nurul memutar badannya sedikit menghadap Egi — gesture kecil yang artinya: lanjut, lagi didengerin.


Egi mulai bercerita. Suaranya menyesuaikan suasana — lebih pelan dari biasanya, seperti tidak mau mengganggu kebun di sekitarnya. Di saung si Teteh, orang memang cenderung bicara lebih rendah. Suasananya yang minta begitu.

Waktu itu Egi baru masuk sebagai junior. Benar-benar baru. Masih bau orientasi. Masih sering salah parkir. Masih tipe orang yang datang sepuluh menit lebih awal karena takut dianggap tidak serius. Di sana ada seorang senior — namanya Candra, dipanggil Kang Candra — yang terkenal hadir dengan aura. Bukan karena prestasinya gemilang, tapi karena cara bicaranya yang selalu lambat, selalu mengandung jeda panjang, dan selalu membuat orang di sekitarnya merasa sedang menghadap kuncen gunung yang baru turun dari pertapaan.

Kang Candra ini tipe orang yang kalau masuk ruangan, langkahnya seperti ada yang mengiringi. Kalau bicara, setiap kata terasa disimpan dulu semalam sebelum dikeluarkan — terukur, penuh wibawa yang sulit dijelaskan tapi langsung terasa sampai ke ulu hati. Orang-orang di kantor suka menirukan gaya bicaranya di belakang, tapi tetap saja waktu orangnya muncul, pada diam dan manggut-manggut.

Egi, yang waktu itu masih hijau dan penuh semangat ingin belajar, sangat terkesan. Dia mengamati Kang Candra seperti orang yang baru masuk museum dan yakin semua yang ada di sana pasti penting dan punya makna.


Suatu hari, Egi sedang mengerjakan sesuatu yang melibatkan sabun — produk yang sedang digarap divisinya saat itu. Sabun cuci. Hal sepele di mata orang lain, tapi bagi Egi yang baru dan ingin memahami segalanya sampai ke akarnya, ada yang mengganjal.

Sabunnya busanya sedikit.

Egi mengernyit. Dicoba lagi. Tetap sedikit. Dia tidak mau asal berasumsi — ini pekerjaan, lain pangabutuh. Maka ketika Kang Candra kebetulan melintas di dekatnya, Egi memberanikan diri.

"Kang, ieu sabunna ku naon busana saeutik? Kenapa ya, Kang?"

Kang Candra berhenti.

Menoleh pelan.

Menatap Egi dengan tatapan seorang yang baru selesai meditasi tiga hari di Gunung Burangrang. Satu detik. Dua detik. Tiga detik yang terasa seperti Egi sedang diukur, ditimbang, dan sedang ditemukan bahwa beratnya belum cukup untuk pertanyaan sebesar ini.

Lalu, dengan suara yang berat dan penuh pause yang sangat — sangat — dramatis, Kang Candra berkata:

"Teu kabeh sabun… busana loba."

Tidak semua sabun… busanya banyak.

Lalu pergi.


Di saung, bertiga mereka diam sebentar.

Angin lewat dari arah bukit. Daun pisang di luar bergeser, bergesek satu sama lain dengan suara yang seperti bisikan. Dari arah warungnya, terdengar suara si Teteh sedang ngulek sesuatu — mungkin sambel, mungkin bumbu kacang, mungkin tidak ada hubungannya dengan apapun tapi bunyinya entah kenapa menenangkan.

"Terus kumaha, Gi?" tanya Willy akhirnya.

Egi menghela napas pendek. "Ngangguk-ngangguk."

"Ngangguk-ngangguk," Willy mengulang, datar.

"Urang kira eta jawaban dalam. Urang kira urang nu can cukup umur keur ngarti."

"Terus?" tanya Dion.

"Urang googling."

Nurul menegakkan badannya. "Googling?"

"Googling quotes eta. Teu aya. Urang neangan di buku motivasi, teu aya. Nanya ka babaturan, pada teu apal." Egi berhenti sebentar. Menatap kopinya yang sudah mulai dingin. "Tapi urang tetep ngarasa eta teh penting. Jadi…" dia berhenti lagi.

"Jadi naon?" Dion mendekatkan badannya.

"Urang tulis di notes hape."

Willy menyemprot tawa. Es tehnya hampir tumpah ke tikar pandan.

"GI. Manéh nulis?"

"Nulis," Egi mengakuinya dengan wajah yang sudah berdamai dengan rasa malu itu sejak lama. "Disimpen. Direnungkeun. Bahkan ampir dijieun caption Instagram tapi masih ragu prung-pranganana, jadi di-pending."

"Di-pending," Dion mengulangnya pelan, seperti kata itu perlu waktu untuk didarat.

"Di-pending," Egi mengonfirmasi.

Nurul tidak ketawa. Dia menatap Egi dengan ekspresi yang susah dibaca — antara geli, antara iba, antara justru kagum dengan cara yang tidak akan pernah dia akui secara langsung.

Si Teteh datang membawa piring-piring. Nasi goreng, mangkok mie rebus yang masih panas saat diletakkan. Dia tidak tahu mereka sedang membahas filsafat sabun. Dia meletakkan semuanya pelan, tersenyum pendek ke arah mereka, lalu kembali ke warungnya tanpa banyak bicara — cara si Teteh yang memang selalu begitu. Hadir tanpa mengganggu. Persis seperti saungnya sendiri.


"Terus endingna kumaha?" tanya Dion, mulai makan.

Egi tersenyum tipis. Jenis senyum orang yang sudah tahu punchline-nya tapi masih menikmati jalannya cerita.

"Waktu berlalu. Urang naik jabatan. Posisi urang akhirnya setara sama Kang Candra." Dia mengambil tahu, menggigitnya pelan. "Suatu hari, di pantry, urang sama Kang Candra nunggu dispenser bareng. Ngan duaan. Saat eta urang inget rek nanya maksud pernyataan si eta nu baheula.

"Manéh nanya," kata Nurul. Bukan pertanyaan.

"Nanya. Kang, kapungkur Akang pernah bilang ka abdi, teu kabeh sabun busana loba. Eta maksudna naon, Kang?"

Willy sudah berhenti mengunyah. Dion meletakkan sendoknya. Nurul mendekatkan badannya sedikit, tanpa sadar.

"Manéhna seuri," lanjut Egi. "Santai. Kayak orang yang lagi ngelepas beban lama. Terus manéhna ngomong—"

Egi berhenti sebentar. Bukan untuk efek dramatis — tapi karena bahkan sekarang, menceritakannya ulang di saung si Teteh ini, di antara suara angin dan kebun dan ngulek si Teteh dari kejauhan, masih ada sesuatu yang lucu sekaligus absurd sekaligus sedikit memukul dari kalimat itu.

"Teu aya hartina, Gi. Waktu eta mah hayang katara wibawa wé."

Tidak ada artinya. Waktu itu cuma mau kelihatan berwibawa saja.


Saung itu meledak.

Bukan ledakan marah. Tapi ledakan dari jenis tawa yang hanya bisa lahir di tempat seperti ini — di bawah atap daun, di tengah kebun lembah Bandung Barat, jauh cukup dari kantor untuk jadi jujur, dekat cukup untuk masih relevan. Tawa yang tidak perlu ditahan karena tidak ada meeting yang terganggu, tidak ada klien yang lewat, tidak ada atasan yang bisa salah paham.

Willy sampai menepuk papan kayu di bawah tikar. Dion terbungkuk ke depan, bahunya naik turun. Nurul tertawa dengan tangannya menutup mulut — cara dia tertawa kalau sudah benar-benar tidak bisa ditahan lagi.

Burung di pohon cengkeh sebelah ikut pergi terbang. Mungkin terganggu. Mungkin memang tidak suka filsafat sabun.

Si Teteh mengintip sebentar dari balik warungnya, melihat empat orang dewasa ngakak di saungnya, lalu kembali ke dalam sambil sedikit menggelengkan kepala. Sudah biasa. Orang kantor memang begitu kalau sudah di saung — lepas sekali.


Tawa mereda pelan-pelan, seperti hujan Bandung yang berangsur berhenti di sore hari.

Willy menyeka ujung matanya. "Jadi manéh nyimpen omong kosong sababaraha taun, Gi."

"Iya," kata Egi, tanpa membela diri.

"Kasian pisan."

"Iya."

"Sabaraha taun?" tanya Dion.

"Ampir dua taun."

Dion menghela napas panjang, bukan karena kasihan — tapi karena sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya.

Nurul yang dari tadi belum bicara banyak, akhirnya bersuara. Pelan, tapi terang, seperti suara adzan tadi yang menembus daun-daun.

"Tapi tunggu."

Semua menoleh.

"Kalimat eta salah. Niatna salah. Kang Candra teu bermaksud naon-naon." Nurul memutar gelasnya perlahan di atas papan kayu. "Tapi coba pikir heula — teu kabeh sabun busana loba. Urang ngarasa eta teh… bener?"

Hening sebentar. Angin turun lagi dari bukit, lebih panjang kali ini, menyapu kebun pisang sampai daunnya melambai semua ke satu arah.

"Urang hirup di dunya nu karérab ku busa," lanjut Nurul. "Sagalana kudu katara gede, katara wah, katara loba hasilna. Jalma dinilai ti sabaraha ribut pencapaiannya. Sabaraha ramé profilnya. Tapi sabun nu alus — nu beneran bersihin, nu teu nyieun panangan garing, nu kualitasna tahan — kadang busana justru saeutik. Manéhna gawe dina jempéna. Teu butuh ditongton. Teu butuh dipuji."

Egi menatap Nurul. Di wajahnya ada ekspresi yang aneh — campuran antara iya kuring ge mikiran kitu dan ku naon lain kuring nu ngomong ti tadi.

"Busa mah narik perhatian," kata Nurul, menutupnya pelan. "Tapi beresih eta nu penting."


Willy bersandar ke tiang bambu, menatap langit-langit saung. Di sana ada sarang laba-laba kecil di sudut yang sudah lama dibiarkan si Teteh — mungkin karena tidak mengganggu, mungkin karena sudah dianggap bagian dari dekorasi.

"Jadi Kang Candra," kata Willy pelan, "nu hayang katara wibawa di hareup junior anyar — tanpa disadari ngomongkeun hiji hal nu bener."

"Tanpa niat," tambah Dion.

"Tanpa niat," Willy mengulang.

"Sering kitu," kata Egi, kali ini tanpa senyum. Serius, tapi bukan serius yang berat — lebih seperti serius yang sudah diendapkan lama sampai jadi tenang. "Urang malah mikir — lamun Kang Candra langsung jawab busana saeutik lantaran komposisi surfaktan na béda — pasti urang lupa dua minggu kemudian. Tapi lantaran manéhna ngomong eta, lantaran eta teh misterius, lantaran urang ngajaga eta salila opat taun… ahirna urang ngolah eta sorangan. Neangan maknana sorangan."

Hening lagi. Hening yang berbeda dari sebelumnya — bukan hening kosong, tapi hening yang sedang diisi.

"Urang nu ngabentuk maknana," kata Nurul pelan.

"Lain Kang Candra," kata Egi, mengangguk.


Si Teteh datang lagi, kali ini membawa pesanan lain yang nyusul. Diletakkan begitu saja di tengah, lalu pergi lagi. Tidak ada penjelasan. Tidak ada harga yang disebut. Nanti juga dihitung sendiri waktu mau pulang — sudah paham caranya.

Mereka melanjutkan makan siang dalam diam yang nyaman. Di luar, matahari sudah mulai condong ke barat, menyinari kebun dari sudut yang membuat setiap daun seperti punya tepi emas tipis.

Lima menit lagi harus balik ke kantor.

Tapi tidak ada yang bergerak duluan.


"Teu kabeh sabun busana loba," Dion mengucapkannya pelan, seperti sedang mencoba rasanya di mulut untuk pertama kali. "Urang bakal make eta."

"Untuk apa?" tanya Willy.

"Entah. Mungkin suatu saat." Dion mengangkat bahu. "Mungkin waktu aya junior anyar nu nanya hal nu teu bisa langsung dijawab."

"Manéh bakal jadi siga Kang Candra atuh," kata Willy.

"Bédana," kata Dion, "urang teu bakal ngaku ka manéhna yén teu aya hartina."

Semua ketawa lagi. Lebih pelan kali ini. Jenis tawa yang sudah melewati fase lucunya dan sampai di tempat yang lebih hangat.

Egi memandang kebun di depannya. Pohon pisang, pohon singkong, pagar bambu yang sudah miring sedikit di ujung. Kesederhanaan yang tidak mencoba menjadi lebih dari apa adanya.

Tidak berlebihan. Tidak banyak busa.

Tapi nyaman. Tapi bersih. Tapi membekas.

"Yu ah, udah mau bel masuk." Ajak Egi ke semua teman-temannya.


Mereka akhirnya berdiri, menaruh piring-piring ke pinggir seperti kebiasaan. Sambil berhamburan menuju kasir si Teteh di bagian depan warung, menerima uang tanpa banyak bicara, mengangguk, lalu masuk lagi ke balik warungnya.

Di jalan setapak menuju kantor, Nurul berjalan paling belakang. Angin dari lorong gang menyusul dari belakang, mendorong pelan.

Dia tidak bilang apa-apa lagi.

Tapi di notes hapenya, diam-diam, dia mengetik satu kalimat.

Teu Kabeh sabun busana loba.

Disimpan. Tidak diberi judul. Tidak ada keterangan dari mana asalnya.

Nanti juga tahu sendiri artinya.


"Teu Kabeh sabun busana loba." — Kang Candra, nu hayang katara wibawa. — Egi, nu dua taun nyimpen eta kawas jimat. — Nurul, nu ahirna nyimpen ogé. — Jeung urang sadayana, nu kadang butuh kalimat kosong heula… méméh bisa ngajieun eusina sorangan.

IMAGIFA

X-human TechVolution design.

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال