Selamat Tahun Baru.
Katanya.
Tidak ada kenangan spesifik. Hanya usia yang menagih tanpa surat peringatan.
Besok, 1 Muharram 1448 H. Kalender berganti. Angka bertambah satu. Di grup WhatsApp, orang-orang sudah mulai mengetik ucapan yang sama persis seperti tahun lalu — hanya angkanya yang berbeda.
Aku scroll. Lalu taruh HP.
Jujur saja.
Tidak ada kenangan spesifik yang aku bawa dari 1447 ke 1448. Tidak ada momen dramatis. Tidak ada pencapaian yang layak diukir di batu nisan sejarah pribadi. Hidup terasa berjalan seperti koneksi internet yang lumayan — tidak putus, tapi tidak juga cepat.
Yang paling terasa cuma satu hal.
Badan mulai minta negosiasi. Usia itu bukan angka — ia adalah suara dari dalam sendi yang dulu diam.
Dulu begadang sampai subuh, bangun jam delapan, masih bisa jalan normal. Sekarang? Tidur jam sebelas malam, bangun jam enam, tetap saja lutut bicara duluan sebelum mulut.
Muharram dalam kalender Hijriah bukan sekadar ganti tahun. Ia adalah bulan yang dihormati — bulan larangan, bulan berhenti sejenak, bulan yang dalam tradisi Islam disebut Syahrullah, bulannya Allah.
Tapi rata-rata manusia modern — termasuk aku — memaknainya dengan cara paling sederhana yang ada: foto bulan sabit, caption "Selamat Tahun Baru Islam," lanjut tidur.
Bukan karena tidak peduli. Tapi karena hidup terlalu keras untuk juga menjadi spiritual setiap saat.
Dan mungkin di situlah poinnya.
Tahun baru tidak butuh momen dramatis untuk dirasakan. Kadang ia datang pelan — dalam tubuh yang lebih mudah lelah, dalam sabar yang sedikit lebih tebal dari tahun lalu, dalam keputusan kecil yang diam-diam membentuk siapa kamu hari ini.
Kamu tidak ingat kenangan spesifik? Mungkin karena kamu tidak menjalaninya sebagai kenangan. Kamu menjalaninya sebagai hidup.
Dan itu, dengan segala kekurangannya, sudah cukup.
1 Muharram 1448 H — selamat datang.
Aku tidak tahu kamu akan membawa apa.
Tapi aku harap setidaknya, sendi-sendiku mau diajak kompromi.
Komentar
Comments
Post a Comment