Tiga puluh dua tahun hilang dalam sekejap. Ketika Piala Dunia 2026 diumumkan untuk Kanada, USA, dan Meksiko, saya kembali ke 1994. Saat itu tubuh saya kecil, mata saya tertempel pada televisi tabung, dan saya percaya poster di kamar bisa mengubah segalanya.
Saya ingat Roberto Baggio dengan rambut kuncir kudanya.
Bukan gol-golnya. Bukan tekniknya. Rambut itu melambai setiap kali dia berlari, dan sebagai anak saya pikir: begitulah cara menjadi penting. Punya ciri khas orang tak bisa lupakan. Baggio bukan hanya pemain—dia adalah simbol hidup dengan kuncir di belakang kepala.
Bapak pulang kerja dengan poster. Poster jadwal Piala Dunia 1994 dari tabloid BOLA yang dibelinya di perjalanan. Dia tidak mengatakan apa pun tentang itu. Hanya memberikan.
Saya langsung menempel poster itu di dinding ruangan, di tempat yang bisa saya lihat saat membuka mata. Setiap hari saya duduk di depan kalender itu dan menulis. Tim mana yang menang. Nama mereka. Goresan pensil untuk yang sudah tereliminasi. Memperbarui jadwal dengan tangan sendiri seolah saya sedang mengatur takdir.
Melalui poster itu saya mengendalikan sesuatu. Dunia di luar kamar kacau, tetapi poster saya rapi.
Sekarang saya bertanya: apakah anak-anak zaman sekarang bisa merasakan itu? Mereka punya semua informasi dalam satu detik. Tetapi mereka tak pernah menempel poster. Tak pernah menulis dengan tangan. Tak pernah menghabiskan waktu menunggu.
Mungkin keajaiban itu bukan posternya. Bukan Baggio. Bukan Piala Dunia.
Keajaiban itu adalah seorang ayah memberikan hadiah tanpa banyak bicara. Anak yang percaya poster itu penting. Momen ketika seseorang mengerti apa yang kamu butuhkan—sebelum kamu bisa mengatakannya.
Poster akan kusam. Baggio akan terlupakan. Tapi momen itu tetap. Ayah memberikan, tangan saya menempel, pikiran saya percaya. Itu cukup.
Juli 2026 akan datang. Stadion baru akan penuh. Tetapi tidak akan ada lagi anak yang menempel poster di dinding kamarnya dan memperbarui jadwal dengan tangan sendiri. Teknologi mengambil itu dari mereka.
Atau mungkin mereka punya keajaiban lain yang kami tidak tahu.
Komentar
Post a Comment